Monumen Kematian


Salah satu kreasi dan inovasi Kapolresta Bukittinggi Drs. Eko Para Setyo Siswanto M.Si dalam bidang Kamtibcar Lantas untuk menertibkan para pengendara maupun yang dibonceng sepeda motor agar selalu menggunakan helm standar yaitu :

Razia Sepeda Motor

Razia Sepeda Motor

Apabila anggota dalam razia maupun gatur lantas menemukan baik pengendara maupun yang dibonceng memakai helm non standar langsung distop, sepeda motornya diamankan sementara dan kepadanya diberikan dua pilihan sebagai berikut :

Pilihan 1 :

Bersedia ditilang dengan membayar saksi denda pelanggaran sebesar Rp.30.000.-(Tiga puluh ribu rupiah) untuk negara.

Pilihan 2 :

Mencari atau membeli helm standar dengan catatan helm non standar miliknya dirampas.

Sampai tanggal 28 Agustus 2008 telah disita sebanyak 1600 helm non standar, yang kemudian helm-helm tersebut dijadikan sebuah monumen yang di tempatkan di depan Mako Polresta Bukittinggi yang diberi dengan nama ‘MONUMEN KEMATIAN’ yang diresmikan oleh Kapolresta Bukittinggi Drs.Eko Para Setyo Siswanto M.Si pada tanggal 28 Agustus 2008.

Dalam peresmian tersebut Kapolresta Bukittinggi mengundang Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Guru-guru SLTP dan SLTA se Kota Bukittinggi, Ketua Osis dan Wakil Ketua Osis SLTP dan SLTA se kota Bukittinggi, Dokter Spesialis Saraf dari RSAM Kota Bukittinggi.

Sebelum meresmikan monumen kematian terlebih dahulu Kapolresta Bukittinggi memberikan arahan kepada peserta undangan yang hadir tentang pentingnya penggunaan helm standar baik dari segi keamanan sebagai pelindung kepala terhadap benturan apabila terjadi kecelakaan dan juga sanksi yang dapat diberikan kepada pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar.

Adapun kriteria dari helm yang memenuhi persyaratan untuk pelindung dan keselamatan keselamatan bagi pengendara maupun yang dibonceng sebagai berikut :

1. Terbuat dari plastik yang bagus tahan terhadap benturan keras.

2. Mempunyai tali pengikat.

3. Mempunyai busa pelindung.

4. Mempunyai plastik bening pelindung mata.

5. Mempunyai bentuk yang menutupi mulai dari dahi, kepala atas, samping sampai ke pundak.

6. Memiliki lubang angin pada telinga.

Dan pada kesempatan tersebut dilakukan pemutaran film simulasi pentingnya penggunaan helm standar.

Dari segi medis diberikan arahan oleh dokter spesialis saraf dari RS AM Bukittinggi, tentang bagaimana pentingnya perlindungan terhadap kepala, karena pada kepala terdapat otak yang merupakan pusat sentral dari saraf manusia, Apabla terjadi benturan tanpa pengamanan akan mengakibatkan bahaya yang fatal, mulai dari hilangnya kesadaran (pingsan), gangguan jiwa karena tidak dapat berpikir positif, pendarahan otak, pembengkakan otak dan bahkan tidak jarang yang berakir dengan kematian.

Selesai acara peresmian tugu kematian dilanjutkan dengan acara tulisan atau coretan masal pada kain spanduk sepanjang delapan meter yang ditulis oleh seluruh tamu undangan yang bertemakan pentingnya penggunaan helm standar.

Tentang Marjohan

Seorang anak desa dengan segala lika - liku kehidupan dan cobaan...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s